Blog Milyuner

    Featured Successfull Businessman and Entrepreneur ever !

    Keran KPR yang mulai mengucur, membuat aktivitas PT Ciputra Development terdengar lagi. Kelompok usaha ini semakin giat beriklan. Akankah Ciputra segera berjaya kembali? Akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini, sebagaimana kebanyakan pengusaha properti lainnya, Ciputra pun harus melewati masa krisis dengan kepahitan. Padahal, serangkaian langkah penghematan telah dilakukan. Grup Ciputa (GC), misalnya, terpaksa harus memangkas 7 ribu karyawannya, dan yang tersisa cuma sekitar 35%.

    Lantas, semua departemen perencanaan di masing-masing anak perusahaan segera ditutup dan digantikan satu design center yang bertugas memberikan servis desain kepada seluruh proyek. Jenjang komando 9 tingkat pun dipotong menjadi 5. Akibatnya, banyak manajer kehilangan pekerjaan. Lebih pahit lagi: kantor pusat GC yang semula berada di Gedung Jaya, Thamrin, Jakarta Pusat, terpaksa pindah ke Jl. Satrio — kompleks perkantoran milik GC. Paling tidak, dengan cara semacam itu, GC bisa menghemat Rp 4 miliar/tahun.

    Sementara Harun dan tim keuangannya — setelah susut menjadi 7 orang dan gajinya dipotong hingga 40% — hengkang ke salah satu lantai Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tempat itu, mereka menyewa beberapa ruangan. Selebihnya, kabar yang menjadi rahasia umum: utang GC macet total.

    Menurut Harun, para petinggi CD waktu itu sadar betul kondisi yang ada tidak bakalan berubah secepat yang dibayangkan. Soalnya, berlalunya krisis moneter yang belakangan bermetamorfosis menjadi krisis multidimensional sejatinya berada di luar kendali mereka. Celah yang masih terbuka hanyalah konsolidasi internal dan restrukturisasi perusahaan.

    Maka, selain memangkas biaya operasional secara drastis, CD pun segera menerapkan strategi pemasaran baru: menjual kapling siap bangun. Kata Harun, selain CD kala itu hanya menyimpan sedikit stok rumah siap huni, perubahan strategi pemasaran ini juga dilakukan untuk membidik konsumen berkantong tebal. Maklumlah, mengharapkan KPR ibarat pungguk merindukan bulan. Adapun yang tersisa, ya itu tadi, pasar kalangan kelas menengah-atas. Mereka biasanya lebih suka membeli kapling karena dapat menentukan sendiri desain rumahnya.

    Keuntungan lain menjual kapling tanah: berkurangnya biaya operasional. Masih menurut Harun, dengan menjual kapling siap bangun, CD cuma berkewajiban menyediakan infrastruktur seperti telepon, air, listrik dan jalan. Memang, ketimbang membangun rumah siap huni, biaya penyediaan infrastruktur relatif jauh lebih murah. Dalam perhitungan Harun, biaya yang dikeluarkan per m2-nya cuma Rp 90 ribu.

    Sementara itu, bila membangun rumah siap huni, CD mesti siap menerima kenyataan jika harga bahan-bahan bangunan meningkat pesat. Besi, misalnya. Setelah kurs rupiah terhadap US$, harganya naik 60%. Sementara semen dan keramik, masing-masing meningkat menjadi 40% dan 30%. Jadi, “Tak ada alasan tidak menerapkan strategi itu,” ujar Harun. Kebijakan itu berlaku di Jakarta dan di Surabaya.

    Guna mendukung strategi di atas, program-program above the line juga tak luput dikoreksi. Hasilnya, dari monitoring yang dilakukan, para petinggi CD akhirnya berkesimpulan, mubazir bila beriklan gencar di masa krisis. “Seperti membunuh tikus dengan memakai bom,” jelas Harun. Alhasil, pilihan kemudian jatuh pada penjualan langsung. Bahannya diolah dari database konsumen milik CD. Dan supaya lebih terarah, database diolah lewat pembentukan klub-klub penjualan, di Jakarta maupun Surabaya.

    Namun, apa daya, meski harga kapling siap bangun belum dinaikkan dan tim pemasaran bekerja sekeras mungkin, toh strategi itu tidak langsung membuahkan hasil yang memuaskan. Lebih dari Tiga bulan, konsumen yang tertarik dengan ratusan hektare tanah matang milik CD yang dijual dalam bentuk kapling siap bangun — dari total 1.800 har landbank (tanah mentah) CD yang tersebar di Jakarta dan Surabaya — bisa dihitung dengan jari.

    Kata Harun, petinggi CD lagi-lagi sadar para pemilik uang sesungguhnya lebih memilih mendepositokan uangnya ketimbang membeli kaping siap bangun. Maka, “Tahun 1998 adalah tahun yang paling sulit yang pernah dilalui CD,” kenangnya. Masalahnya, uang yang masuk selama setahun cuma Rp 40 miliar.

    Itulah nilai total hasil penjualan lima proyek perumahan di Jakarta dan Surabaya milik CD. Jelas, ketimbang tahun-tahun sebelumnya, saat kondisi ekonomi masih normal, kenyataan tersebut benar-benar menyakitkan. Sebelum krisis, dari satu proyek saja, CD bisa meraup uang sebanyak Rp 10 miliar/bulan. Artinya, angka Rp 40 miliar tersebut biasanya dicapai hanya dalam sebulan.
    Yang lebih menyesakkan, menurut sumber SWA, Pak Ci ikut-ikutan menambah beban psikologis pasukannya. Hampir setiap hari CEO GC itu uring-uringan tanpa sebab yang jelas. Seingatnya,waktu itu Pak Ci jarang bertanya kepada anak buahnya bagaimana sebenarnya kondisi di lapangan. “Ia malah seperti tak habis-habisnya melakukan pressure kepada timnya,” jelas si sumber.

    Dan lucunya lagi, bahkan di luar dugaan banyak orang — sang sumber sendiri kaget luar biasa — Pak Ci sampai-sampai “menodong” seorang pemuka agama agar jemaat gerejanya membeli kapling siap bangun di salah satu proyek perumahan CD. “Benar-benar tidak masuk akal,” ungkap sumber. Benarkah? “Bohong. Kalau stres, siapa yang tidak stres waktu itu,” bantah Harun.

    Untunglah, bersamaan turunnya suku bunga deposito di awal 1999, strategi itu mulai menampakkan hasil. Kecil memang, tapi, “Kami sudah mulai sibuk,” ujar Harun. Ia menunjuk aktivitas penjualan kapling siap bangun, khususnya yang di Surabaya. “Di kota ini, penjualannya cukup bagus.”

    Sayang, Harun tak bersedia menyebutkan nilai transaksi di Kota Buaya. Yang jelas, tidak seperti di Jakarta, jumlah item kapling siap bangun yang ditawarkan CD di Surabaya lumayan variatif. Dari segi luas contohnya, 1.200-2.000 m2 dengan harga jual minimal: Rp 600 ribu/meter2. Selain itu, ada pula kapling golf — posisinya berhadapan atau di sekitar lapangan golf. “Kapling jenis ini, sekalipun lebih mahal, tampak paling disukai,” jelas Harun.

    Bagaimana dengan Jakarta? Kendati kapling yang dijual hanya berukuran 200-500 m2, angka penjualannya tidak sebagus di Surabaya. Dan kapling yang disukai konsumen kebanyakan yang berukuran 400 m2 seharga Rp 225-500 ribu/m2. Menurut Harun, hal itu terjadi karena tingkat persaingan di Jakarta lebih ketat ketimbang di Surabaya. Soalnya, “Ada banyak proyek serupa di sini,” ujarnya. Dan, yang lebih penting, kapling golf bukanlah hal yang istimewa bagi banyak konsumen metropolitan. “Jadi, penawaran kami sama seperti yang lain. Karena itu pula, bisa jadi konsumen mencari yang lebih murah.”

    Seperti yang sudah-sudah, tutur menantu Ciputra itu, kebutuhan konsumen di Jakarta sejatinya adalah rumah siap huni yang dilengkapi fasilitas KPR. Karena itu, bermodalkan pendapatan hasil penjualan kapling siap bangun plus tersedianya sarana KPR, CD pun mulai menggiatkan pembangunan rumah siap huni, di Citra Raya Tangerang, Citra Indah Jonggol, Citra Grand Cibubur ataupun Citra Cengkareng.

    Bersamaan waktunya, CD pun kembali rajin beriklan. Namun, tidak seperti tiga tahun lalu, kini belanja iklannya diatur ketat. Indikator pertama yang dihitung sebelum mengeluarkan uang untuk berpromosi di berbagai media cetak adalah jumlah total hari libur dalam setiap bulan. Yang jelas, sebulan CD beriklan tak lebih dari tiga kali. “Bukan apa-apa. Kami hanya ingin iklan itu bisa efektif mencapai sasaran,” katanya. Ia menambahkan, klub-klub penjualan yang dulu sempat dibentuk tetap diteruskan.

    Hanya saja, lagi-lagi sayang, Harun mengaku tidak ingat persis jumlah uang yang masuk ke kocek CD setelah perusahaan properti yang dipimpinnya itu kembali rajin beriklan. Ia hanya mengatakan, “Cash flow kami cukup aman.” Ditambah semakin membaiknya daya beli konsumen, Harun pun optimistis, CD dan GC bisa berkibar kembali. Namun, tentu saja, ia mengaku, “Tidak seperti dulu lagi.”

    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Paulus Pandiangan, SWA 03/XVI/10-23 Februari 2000

    .

    .

    Di Banda Naira ia bukan saja tokoh, tapi juga ‘pusat komunikasi’ sebagai tempat mengadu, berkeluh kesah, meminta petunjuk untuk memecahkan masalah. Di Jakarta, ia terkenal sebagai pelobi tingkat tinggi dan simbol masyarakat Banda. Lalu, siapa Des Alwi?
    “Sebuah kapal putih tampak merapat ke dermaga. Semua mata tertuju pada dua orang tua mengenakan setelan jas putih dan berdasi yang menuruni tangga kapal. Kedua tuan berparas pucat itu membawa delapan koper besar dari kayu dan empat tas besar dari kulit. Dengan celana renang dan rambut yang masih basah saya perhatikan mereka. Yang salah seorang di antaranya memakai kaca mata. Seorang di antara mereka tersenyum kepada saya,” demikian kenangan Des Alwi saat pertama kali bertemu Muhammad Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di Banda Naira.

    Saat itu Des Alwi baru berusia 8 tahun dan duduk di kelas dua ELS (Europeesche Lagere School). Namun ia mengaku sudah mengetahui dengan pasti bahwa kedua tuan itu dari Boven Digul, karena wajah mereka pucat. “Setiap orang yang datang dari Digul senantiasa berwajah pucat. Agaknya di sana mereka kekurangan makan dan banyak yang menderita malaria,” ungkapnya.

    Kedua orang itu lalu bertanya pada Des dengan bahasan Belanda, apakah tahu di mana rumah dokter Tjipto Mangunkusumo? “Tahu, tetapi jauh dari sini. Kalau rumah Mr. Iwa Kusumah Sumantri persis di depan dermaga ini,” jawab Des kecil. Nama dokter Tjipto dan Mr. Iwa memang sangat di kenal di Banda, karena mereka telah cukup lama berdiam di Naira dan Des Alwi adalah teman putra-putri mereka.

    Belakangan Des baru tahu, kedua ‘tamu jauh’ itu bernama Muhammad Hatta dan Sjahrir, orang tahanan politik Belanda yang dibuang ke Boven Digul. Pertemuan dengan kedua tokoh itulah yang hingga kini tak pernah ia lupakan. Bahkan ia menganggapnya sebagai pertemuan yang kemudian menjadi arah hidupnya hingga menjadi Des Alwi yang sekarang ini. Karena kecerdikan, kepandaian dan ‘kenakalan’nya, kedua tokoh tersebut konon sangat menyukai cucu Said Baadila ini. Hingga kemudian Bung Hatta mengambil Des Alwi sebagai anak angkat.

    “Saya merasa sebagai orang pertama yang mereka tangani. Dalam kehidupan saya selanjutnya, ketepatan dan ketelitian dalam bekerja yang telah beliau tanamkan merupakan salah satu nilai tambah yang besar dalam karier saya selama ini. Dari Oom Sjahrir, saya mendapat banyak wawasan dan pengertian,” kata Des Alwi.

    Cucu Raja Mutiara Maluku
    Des Alwi Abubakar lahir 17 November 1927 di Desa Nusantara, Naira sebuah pulau kecil dalam kelompok Banda di Kepulauan Maluku. Ayahnya bernama Alwi, berasal dari Ternate yang konon masih keturunan Sultan Palembang yang dibuang ke Banda. Sang ibu bernama Halijah Baadilla, anak perempuan dari Said Baadilla, pengusaha mutiara yang pernah terkenal dari Naira.

    Sang kakek, Said Baadilla terkenal sebagai pebisnis ulung di Banda. Dengan bendera perusahaan Baadilla Brothers, ia mengembangkan bisnis mutiara Banda dan perkebunan Pala yang terkenal dengan Perk Kele Norwegen di Lonthor dan di Pagar Buton, Banda Besar. Mutiara dan Pala itu diekspor ke berbagai negara di Eropa, hingga ia dikenal sebagai eksportir berpengaruh. Berkembangnya perusahaan Baadilla Brothers menjulangkan nama Said Baadilla, hingga Pemerintah Hindia Belanda menjulukinya sebagai Raja Mutiara Maluku. Dengan julukan itu, pada tahun 1896 Said Baadilla mendapat kehormatan menjadi tamu istimewa Ratu Emma, istri Wilhelm III di Belanda.

    Namun, kebesaran sang kakek hanya kenangan di benak Des Alwi. Sebagai cucu raja mutiara, Des Alwi lahir saat usaha Baadilla sudah hampir ambruk. Masa kebesaran sang kakek sudah mulai memudar, bahkan kondisinya semakin memburuk ketika sang kakek meninggal tahun 1934. Sampai usia 6 tahun Des sama sekali tidak tahu jika sang kakek pernah menjadi orang terkaya di Banda Naira, bahkan di Maluku. Ia mengaku tak sempat menikmati kejayaan sang kakek, walaupun sisa-sisa kejayaan itu masih terlihat.

    Namun, betapa buruknya kondisi ekonomi keluarga, Des mengaku kehidupan masa kecilnya sangat menyenangkan. Setiap hari ia mengaji, berenang di laut sambil berebut memburu coin yang dilempar orang, mencuri buah dari kebun tetangga dan bermain dengan teman-temannya. “Masa kecil saya demikian indah. Saya bangga lahir di Naira,” ungkap ayah Mira, Tanya dan Ramon Alwi ini.

    Ahli Lobi Dan Model Komunikasi
    Kebesaran nama keluarga tidak membuat Des Alwi terlena. Ia tumbuh sebagai sosok pemuda yang begitu mencintai tanah kelahiran dan negaranya. Barangkali karena ‘pengaruh’ pendidikan Hatta dan Sjahrir, di samping sekolahnya di ELS, Des tumbuh menjadi pemuda yang tidak sekedar berani dan penuh percaya diri, tapi juga memiliki ‘kelebihan’ dalam berdiplomasi.

    Sebagian orang menilai, kepiawaian Des Alwi dalam hal melobi, hingga mendapat julukan pelobi tingkat tinggi, dari petinggi nasional hingga internasional itu salah satunya hasil dari kebiasaannya bergaul dengan tokoh-tokoh tahanan politik yang dibuang ke Banda. Des banyak belajar dari dr. Tjipto Mangunkusumo yang disebutnya sebagai Oom Tjip, Dr. Muhammad Hatta yang dipanggilnya sebagai Oom Kaca Mata, Sjahrir sebagai Oom Rir, Mr. Iwa Kusumah Sumantri dan beberapa anggota Sjarikat Islam Indonesia lainnya.

    Maka, dalam perjalanan karier selanjutnya, ia pernah beberapa kali menjadi Atache Press/Kebudayaan KBRI di luar negeri yaitu KBRI Bern, KBRI Austria dan KBRI Philipina. Bahkan ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia – Malaysia tahun 1965-1975 ia sebagai Dinas Diplomatik terlibat dalam Operasi Khusus Tim Penyelesaian Konfrontasi itu. Des berhasil menjadi perantara ‘sulit’. Jurus-jurus kepiawaian diplomasinya mendekati almarhum mantan PM Tun Abdul Rahman dan almarhum mantan DPM Tun Abdul Razak berhasil meredakan konfrontasi itu.

    Sebagai putra daerah ia berperan aktif dalam lobi-lobi nasional dan internasional, untuk berbagai kepentingan Indonesia di dalam maupun luar negeri. Secara lebih spesifik, Des Alwi memiliki jalur lobi kepada tokoh-tokoh nasional di Jakarta. Dalam hal ketokohan Des Alwi ini, maka realitas yang ada bahwa hampir sembilan puluh persen pembangunan fisik dan masyarakat Banda yang membutuhkan peran lobi, semuanya dipengaruhi oleh hasil lobi Des Alwi di tingkat nasional. Dalam hal ini pula maka sebenarnya semua keputusan tentang pembangunan Banda yang berskala besar pada kenyataannya bukan diputuskan di tingkat Maluku atau Maluku Tengah, akan tetapi diputuskan di tingkat Jakarta.

    Bahkan kini, dalam perkembangan masyarakat Banda, tokoh Des Alwi menjadi salah satu model komunikasi. Model komunikasi yang memusat pada tokoh Des Alwi ini adalah semua komponen masyarakat yang terlibat langsung dalam usaha dan kegiatan Des Alwi. Termasuk mereka yang pernah mendapat bantuan Des baik fasilitas, dana maupun koneksitas.

    Melihat ketokohan dan peran Des Alwi yang begitu dominan terhadap pengembangan masyarakat di Banda, terutama pariwisata, maka umumnya masyarakat Banda berpendapat bahwa Banda sangat identik dengan kehendak Des Alwi. Pendapat-pendapat macam ini dan kaitan-kaitan kepentingan masyarakat dengan bidang-bidang yang bersentuhan dengan usaha Des Alwi di Banda inilah yang melahirkan model-model komunikasi memusat kepada tokoh ini. ►e-ti/anna
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Pria kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara, 26 Agustus 1936, ini seorang pengusaha yang peduli pada profesi jurnalistik. Dialah yang meletakkan dasar-dasar manajemen baru Jawa Pos sehingga menjadi salah satu koran terbesar di Indonesia. Eric Samola meninggal dunia 10 Oktober 2000 di rumah sakit Mount Elizabeth, Singapura dan dimakamkan di Jakarta.

    Eric Samola ketika masih di Bagian Hubungan Masyarakat PT Pembangunan Jaya, ketika direktur utamanya, Ciputra, memintanya memikirkan sejumlah wartawan yang keluar dari majalah Ekspres.

    ”Wah, mengurusi wartawan repot,” katanya, kendati tugas itu diterimanya juga. Ternyata, ia bukan saja mampu membesarkan majalah TEMPO, tetapi juga mengembangkan
    Medika dan Swasembada, serta harian Jawa Pos di Surabaya.

    Sibuk di perusahaan pers tidak membuatnya menelantarkan tugas awalnya di Jaya Group. Memulai sebagai pegawai biasa, dari keberhasilannya merebut satu-satunya lowongan tenaga sarjana hukum di antara 26 SH yang melamar, ia menjadi salah seorang direktur PT Pembangunan Jaya.
    ”Saya tidak bisa bekerja setengah-setengah,” tulis Samola dalam Suplemen 15 Tahun TEMPO, Maret 1986, seperti hendak menjelaskan kunci keberhasilannya.

    Di waktu kecil, ia ingin menjadi polisi. ”Pekerjaan itu kelihatan
    berwibawa sekali,” kata Eric, yang yatim ketika berusia satu tahun, sedangkan satu-satunya adiknya masih dalam kandungan ibunya yang tetap menjanda. Perjuangan sang ibu yang membiayai sekolah mereka dengan gaji seorang guru SD melecutnya rajin belajar. Tamat SMA, ia merantau ke Jawa, dan untuk memenuhi cita-cita masa kecilnya, Eric melamar — dan diterima – di sekolah polisi di Sukabumi.

    Tiba-tiba cita-citanya beralih ingin menjadi hakim. Ia lalu mendaftarkan dan diterima di Fakultas Hukum & Pengetahuan Masyarakat UI, rampung 1964. Melamar kerja di Departemen Kehakiman, lowongan hakim yang tersedia hanya di Timor, padahal Eric ingin ditempatkan di Jakarta atau Bandung.

    Sebenarnya keinginannya itu bisa terpenuhi, bila ia sudi ”mengeluarkan biaya”. Semasa mahasiswa, Eric aktif di organisasi mahasiswa Kristen GMKI.  ”Sejak SMP saya memang sudah senang berorganisasi,” tutur Direktur
    Utama PT Grafiti Pers, yang menjadi penerbit TEMPO itu. Maka, tidak heran, di tengah-tengah kesibukannya, ia masih menyempatkan diri menjabat Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia. Di DPP Golkar, Eric menjadi Ketua Departemen Koperasi dan Wiraswasta.

    Pada usia 50 tahun (1986), dengan tinggi 175 cm, berat badannya ”berlebih” 5 kg. ”Karena itu, kalau malam saya jarang makan nasi,” kata Samola, yang suka main golf dan jalan kaki pagi. Dulu, 1968-1972, ia menyenangi reli mobil, dan Eric muda pernah menjadi juara keempat dan ketiga Rally Jawa-Bali I dan II.

    Penggemar film James Bond dan musik Idris Sardi ini menikah dengan Dorothea Sara Luntungan, anak pendeta yang dulu sama- sama aktif di GMKI. Mereka dikaruniai dua anak.

    Pada tahun 1982, Eric FH Samola yang ketika itu menjabat Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit Majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dialah yang kemudian meletakkan dasar-dasar manajemen baru Jawa Pos. Eric memilih Dahlan Iskan, Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk menjalankan ide-idenya itu. Tahun 1990 Eric Samola menderita sakit yang amat panjang dan akhirnya meninggal dunia di tahun 2000. Dahlan selalu mengatakan Eric Samola bukan saja sebagai seniornya tapi juga bapaknya. ►e-ti/sumber pdat-jawa pos profil
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Sejarah profesinya sangat panjang. Dari petugas Palang Merah, wartawan, hingga pengusaha pun pernah disandangnya. Namun, di tengah kesibukannya, perhatiannya tidak lepas dari orang-orang buta. Di dunia usaha dia dikenal sebagai orang yang memelopori pembuatan peralatan rumah tangga dari plastik bermerek Pioneer.

    Dialah Pandji Wisaksana, pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1925, pengusaha yang telah meniti karier sejak zaman pendudukan Jepang. Perhatiannya kepada orang buta juga telah dimulai sejak muda. Pada tahun 1968, bersama Ny Nani Ali Sadikin, Pandji mendirikan Bank Mata.
    Hingga kini, di masa pensiun, Pandji masih aktif menggalang dana bagi tunanetra dan mereka yang mempunyai masalah mata. Dia masih menjabat sebagai Penasihat Bank Mata Indonesia Pusat dan masih bolak-balik ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk menjenguk orang-orang yang menjalani operasi katarak. Awal Januari lalu dia juga menerbitkan sebuah buku biografi dirinya berjudul Mata Hati Sang Pioneer Indonesia. Di bagian belakang buku itu tertulis pemberitahuan, semua hasil penjualan buku akan disumbangkan untuk menanggulangi kebutaan yang disebabkan katarak pada masyarakat kurang mampu.
    Keterlibatan Pandji pada perkumpulan filantropi dunia, Lions Club, sejak tahun 1971 agaknya juga membuka jalan lebar buat Pandji untuk menolong orang buta. Dengan memakai bendera Lions Club, tidak terhitung lagi kegiatan yang diprakarsai Pandji untuk menolong orang buta. Dari membagikan 10.000 tongkat putih, kampanye kepedulian pada orang buta, hingga ikut serta dalam proyek Flying Eye Hospital dari Amerika Serikat pada tahun 1982. Flying Eye Hospital adalah sebuah pesawat DC-8 yang diubah menjadi rumah sakit mini khusus untuk bedah mata yang dilengkapi dengan sembilan kamera audiovisual.
    Ayah yang buta
    “Seperti memberikan dunia baru bagi mereka,” ujar Pandji memulai pembicaraan tentang kiprahnya pada orang buta.
    Bukan tanpa latar belakang Pandji tertarik menolong orang buta. Ayahnya, almarhum Phan Jam Soe, adalah penyandang tunanetra akibat bekerja di tambang timah di Pulau Belitung. “Ayah sudah melakukan berbagai cara pengobatan hingga ke Bandung, tetapi tidak sembuh juga. Malah akhirnya buta,” kenang Pandji yang lahir di Bandung, 25 Juni 1925.
    Walau buta, Phan Jam Soe tidak ketinggalan informasi. Setiap sore dia meminta salah seorang pegawainya untuk membacakan buku atau koran. “Ayah tidak seperti orang buta. Penciuman dan pendengarannya yang tajam membuat dia bisa bekerja dan tahu banyak hal. Dia sukses sebagai pedagang,” tutur Pandji yang pernah bercita-cita menjadi dokter mata.
    Kiprah Pandji sendiri di bidang sosial sebenarnya sudah dia rintis sejak muda. Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1945, Pandji yang bekerja sebagai wartawan di Bandung Herald, harian berbahasa Mandarin pertama di Bandung, selalu membawa tas P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan) ke mana pun dia meliput. Kebiasaan ini tumbuh karena sejak berusia 12 tahun Pandji ikut dalam kegiatan pandu. Di situlah Pandji belajar untuk peduli kepada sesama.
    “Ketika Jepang menjajah, sering terjadi letupan perlawanan.

    Jadi, setiap kali bekerja, saya melakukan dua tugas. Pertama, sebagai peliput berita. Kedua, sebagai pembantu petugas Palang Merah. Puncaknya adalah peristiwa Bandung Lautan Api,” cerita Pandji yang mengisi tas P3K-nya dengan perban, kapas, alkohol, obat antibiotik, obat merah, dan boorsalep, yang semuanya disiapkan dengan dana pribadi.
    Penghargaan
    Suami dari Trijuani dan ayah lima anak ini telah menerima berbagai macam penghargaan, antara lain Satyalancana Pembangunan dari Presiden RI (1983), Pengusaha Teladan DKI dari Gubernur DKI (1977), International President’s Award dari Lions Club International (1989), dan penghargaan dari Menteri Sosial (1999).
    Penghargaan itu juga diberikan karena kepeloporannya di industri plastik. Pandji yang pertama kali membuat sikat gigi dari nilon di Indonesia pada tahun 1954. Semula sikat gigi yang ada di pasaran memakai bulu babi sebagai sikatnya. Pandji juga yang pertama kali membuat pipa air plastik, menggantikan pipa besi pada tahun 1963. Namanya pralon. Nama ini akhirnya populer untuk menyebut pipa plastik. Pandji pun mendapat julukan “Bapak Pralon Indonesia”. Dia menyumbang pipa pralon secara gratis untuk pembangunan Masjid Istiqlal. Pada tahun 1968, perusahaan pralon ini dia lepas dan diberikan kepada salah seorang sahabatnya.
    Di usia yang boleh dibilang lanjut ini Pandji tetap sehat. Flu dan batuk pun jarang hinggap di tubuhnya. Ini karena dia rajin melakukan fitnes. Setiap kali cek kesehatan, hasilnya selalu menggembirakan dan dia tidak pantang makanan apa pun. Kunci dari semua keberhasilannya karena dia selalu memegang pepatah China, tian shang you tian, di atas langit masih ada langit. Pepatah ini bisa diartikan untuk tidak sombong dengan selalu mensyukuri apa yang dimiliki. (M Clara Wresti, Kompas, 5 Maret 2007)

    *****
    PANDJI Wisaksana

    Lebih dari 30 tahun ia menekuni bisnis karet dan plastik. Biasa dipanggil Panji, ia dijuluki ”Raja Plastik” dan ”Bapak Pralon”, orang pertama yang memperkenalkan pipa plastik di pasaran Indonesia.

    Setelah lulus SM Bandung English School, anak keempat dari sepuluh bersaudara ini belajar bahasa Jepang. Ia mulai membantu usaha orangtuanya, pengusaha angkutan di Bandung, yang pada zaman Jepang berdagang tembakau dan hasil bumi. Sebagai sambilan, Panji mengajarkan bahasa Jepang kepada seorang Cekoslovakia — bekas pegawai pabrik sepatu Bata — yang berjualan ban bekas buat sepeda. ”Saya pun menjadi salesman- nya,” ia mengenang awal kariernya.

    Pecah revolusi kemerdekaan, ia bergabung dengan Palang Merah Indonesia, dan pernah menjadi wartawan Bandung Herald. Kembali ke bisnis, ia bermodalkan tiga truk, meneruskan usaha orangtuanya. Tetapi, ”Bidang industri ternyata lebih cocok buat saya,” tuturnya.Berkenalan dengan Wong Haking, pengusaha sikat gigi dari Hong Kong, Panji mendirikan dan menjadi direktur Pabrik Sikat Gigi Haking di Jakarta, 1954. Diversifikasi usaha dilakukannya dengan mendirikan PT Siliwangi Knitting Factory, 1955.

    Panji mendirikan PT Vitafoam Indonesia, patungan PT Pioneer Plastics Ltd., yang dipimpinnya sejak 1964, dengan Inoue MTP Ltd., dan Vita International, 1975. Sejak itu semua barang produksinya tidak lagi memakai merk Haking, tetapi Pioneer.

    Menyerap lebih dari 800 tenaga kerja, enam perusahaan Panji kini dipimpin dua anaknya yang lulusan sekolah di luar negeri. Ia sendiri masih mengawasi kegiatan usahanya lewat seperangkat komputer di ruang kerjanya. Omset dan pajak? ”Ah, perusahaan kami kecil,” katanya merendah.

    Panji menikah dengan Tri Juanni, dan dikaruniai empat anak. District Governor 307 Lions Club International ini juga salah seorang pendiri Bank Mata DKI Jaya, Ketua Umum Yayasan Panji Sejahtera, dan Wakil Ketua Yayasan Universitas Trisakti. Sebagai Pengusaha Teladan 1977, ia menerima Piagam dari gubernur DKI Jaya. Pada 1981 ia menerima Asia Award untuk bidang bisnis plastik. Dari pemerintah RI ia menerima Satya Lencana Pembangunan, 1983.

    Di kala senggang, ia menggemari golf, renang, dan piknik. (PDAT) ►e-ti
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Putera Sampoerna, mengguncang dunia bisnis Indonesia dengan menjual seluruh saham keluarganya di PT HM Sampoerna senilai Rp18,5 triliun, pada saat kinerjanya baik. Generasi ketiga keluarga Sampoerna yang belakangan bertindak sebagai CEO Sampoerna Strategic, ini memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.

    Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Sehingga pantas saja Warta Ekonomi menobatkan putra Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) ini sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Sebelumnya, majalah Forbes menempatkannya dalam peringkat ke-13 Southeast Asia’s 40 Richest 2004.

    Putera Sampoerna, pengusaha Indonesia kelahiran Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947. Dia generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Adalah kakeknya Liem Seeng Tee yang mendirikan perusahaan rokok Sampoerna. Putera merupakan presiden direktur ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna itu. Dia menggantikan ayahnya Aga Sampoerna.

    Kemudian, pada tahun 2000, Putera mengestafetkan kepemimpinan operasional perusahaan (presiden direktur) kepada anaknya, Michael Sampoerna. Dia sendiri duduk sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk, sampai saham keluarga Sampoerna (40%) di perusahaan yang sudah go public itu dijual kepada Philip Morris International, Maret 2005, senilai Rp18,5 triliun.

    Pria penggemar angka sembilan, lulusan Diocesan Boys School, Hong Kong, dan Carey Grammar High School, Melbourne, serta University of Houston, Texas, AS, itu sebelum memimpin PT HM Sampoerna, lebih dulu berkiprah di sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Kala itu, dia bermukim di Singapura bersama isteri tercintanya, Katie, keturunan Tionghoa warga Amerika Serikat.

    Dia mulai bergabung dalam operasional PT. HM Sampoerna pada 1980. Enam tahun kemudian, tepatnya 1986, Putera dinobatkan menduduki tampuk kepemimpinan operasional PT HAM Sampoerna sebagai CEO (chief executive officer) menggantikani ayahnya, Aga Sampoerna.

    Namun ruh kepemimpinan masih saja melekat pada ayahnya. Baru setelah ayahnya meninggal pada 1994, Putera benar-benar mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan dan naluri bisnisnya secara penuh. Dia pun merekrut profesional dalam negeri dan mancanegara untuk mendampinginya mengembangkan dan menggenjot kinerja perusahaan.

    Sungguh, perusahaan keluarga ini dikelola secara profesional dengan dukungan manajer profesional. Perusahaan ini juga go public, sahamnya menjadi unggulan di bursa efek Jakarta dan Surabaya. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudera luas berombak besar, PT HM Sampoerna berhasil mengarunginya dengan berbagai kiat dan inovasi kreatif.

    Tidak hanya gemilang dalam melakukan inovasi produk inti bisnisnya, yakni rokok, namun juga berhasil mengespansi peluang bisnis di segmen usaha lain, di antaranya dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan sempat mendirikan Bank Sampoerna akhir 1980-an.

    Di bisnis rokok, HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air, yakni rokok rendah tar dan nikotin. Pada 1990-an, itu Putera Sampoerna dengan kreatif mengenalkan produk rokok terbaru: A Mild. Kala itu, Putera meluncurkan A Mild sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”, di tengah ramainya pasar rokok kretek. Kemudian perusahaan rokok lain mengikutinya.

    Dia memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan. Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Langkahnya yang paling sensasional sepanjang sejarah sejak HM Sampoerna berdiri 1913 adalah keputusannya menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International, Maret 2005.

    Keputusan itu sangat mengejutkan pelaku bisnis lainya. Sebab, kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang. Dalam posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum.

    Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu.

    Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini ((Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang. Dia pun ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kriatif dan  revolusioner dalam bisnisnya. Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.

    Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna. Juga terungkap dari ucapan Angky Camaro, orang kepercayaan Putera: “Arahnya memang ke infrastruktur dan agroindustri.”

    Terakhir, di bawah bendera PT Sampoerna Strategic dia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun untuk sementara dia menolak melanjutkan negosiasi transaksi lantaran persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan. Dia pun dikabarkan akan memasuki bisnis jalan tol, jika faktor birokrasi dan kondisi sosial politik kondusif. e-ti/tian son lang, dari berbagai sumber
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Dia berpenampilan unik sekaligus nyentrik. Bicaranya lugas. Sepintas tidak banyak orang menduga bahwa Soeryo Goeritno seorang pengusaha yang rela mengeluarkan uang Rp 1,5 miliar dari koceknya sendiri untuk menggelar sebuah pertandingan tinju. Dia memang seorang pecinta olahraga tinju.
    Pakaian pria kelahiran 30 Januari 1943, ini didominasi bahan denim dengan kemeja bermotif kotak-kotak atau divariasikan dengan kaus katun. Rambutnya panjang sebahu, berwarna keperakan.
    Soeryo menjadi promotor pertandingan juara dunia kelas terbang mini IBF asal Indonesia, Muhammad Rachman, melawan Benjie Sorolla dari Filipina pada 23 Desember 2006 di Jakarta. Kakek dua cucu inilah yang membiayai seluruh pertandingan tanpa bantuan sponsor.
    “Saya cinta olahraga tinju. Bukan baru sekarang, dari dulu sudah begitu,” ujar Soeryo saat perayaan ulang tahunnya yang ke-64, 30 Januari 2007.
    Tahun 1985, ketika Ellyas Pical menjadi juara dunia tinju pertama dari Indonesia, nama yang meroket adalah promotor Boy Bolang. Padahal, di belakang layar, pria yang fasih berbahasa Rusia dan Inggris inilah yang menyokong dana.
    Saat disebutkan kondisi tinju amatir Indonesia saat ini lebih parah daripada tinju profesional, Soeryo langsung bertanya apa yang dapat dia perbuat. “Beri tahu apa yang dapat saya bantu? Apakah saya boleh membawa pelatih tinju dari Kazakhstan atau Uzbekistan bersama beberapa petinjunya untuk menjadi lawan sparring atlet-atlet Indonesia?” katanya.
    Kecintaan Soeryo terhadap tinju merupakan cerminan watak dan pribadinya sehari-hari yang menyenangi unsur tantangan dan ketegangan. Bisnis yang digelutinya didominasi oleh unsur-unsur tantangan dan ketegangan.
    “Tinju merupakan olahraga keras yang mengandung ketegangan. Saya senang tantangan yang memicu adrenalin. Buat saya, adrenalin harus tetap mengalir. Tanpa adrenalin, saya tidur. Bisnis saya juga mengandung banyak ketegangan dan sampai saat ini mudah-mudahan saya masih mampu berhasil mengatasinya. Saya justru heran mengapa tidak dapat bekerja pada jenis-jenis pekerjaan seperti orang-orang kebanyakan,” ujarnya.
    Dari bawah
    Soeryo yang berasal dari keluarga kelas menengah menamatkan sekolah di Indonesia. Tahun 1964 dia mendapat kesempatan beasiswa belajar geologi di salah satu universitas di Moskwa, Uni Soviet.
    Belum lama kuliah di Moskwa, terjadi perubahan besar politik di Tanah Air. Kuliahnya sempat molor, tetapi bukan karena aliran dana terputus. Hobi musik yang dia salurkan lewat band Equator—dibentuknya bersama mahasiswa Indonesia lain—membuatnya sering bolos kuliah untuk menyalurkan hobi sekaligus mencari duit.
    “Sewaktu mahasiswa dulu, saya itu senang. Duit banyak, ke mana-mana naik taksi di Moskwa,” tuturnya sambil tertawa mengenang masa muda.
    Pribadinya yang ramah dan supel membuat Soeryo dikenal berbagai kalangan di Moskwa. Banyak gadis dikenalnya, tetapi pilihan jatuh kepada dara cantik Lyudmila Alexandrovna yang kemudian dia nikahi sampai sekarang.
    Tahun 1971, Soeryo kembali ke Tanah Air. Namun, status eks mahasiswa Uni Soviet membuat dia terlibat kesulitan serius. Hanya tiga bulan Soeryo bekerja di Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas), setelah itu dia menggelandang di Jakarta.
    Soeryo bekerja serabutan. Mula-mula menjadi sopir taksi. Malam hari mangkal di lokasi hiburan malam. Pagi-pagi sudah mangkal di Stasiun Gambir menunggu kereta api dari Surabaya. Tahun 1973, Soeryo mengurus vila milik saudaranya di kawasan Puncak. Di sana, dia tidak diam. Sore hari membeli sayur-sayuran di Cianjur, lalu malamnya membawa ke Pasar Senen, Jakarta. Anak saya Novi (Pervanovana) waktu itu sudah lahir,” tutur Soeryo.
    Lepas berdagang sayur, Soeryo diajak temannya bekerja sebagai kontraktor sipil. Meski berlatar belakang pertambangan, pekerjaan sipil dijalaninya cukup sukses. Baru pada tahun 1980 hidupnya berubah. Ketika Presiden Soeharto membuka hubungan kembali dengan Uni Soviet, Soeryo dilibatkan.
    Saat ini Soeryo membina hubungan baik dengan angkatan bersenjata negeri ini. Pengetahuannya yang mendalam di bidang persenjataan dan pertahanan membuatnya duduk di lembaga Pusat Kajian Pertahanan dan Keamanan (CSDS) di Jakarta.
    Ketika Indonesia dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan akhir 2006, Soeryo mendapat kepercayaan memadamkannya. Dia terjun langsung memimpin pemadaman di Kalimantan dan Sumatera.
    Dari berbagai bisnis yang dia geluti, Soeryo selalu menyisihkan sebagian keuntungan buat tujuan sosial. Bagian dari keuntungan itulah yang kemudian disalurkan ke bidang olahraga dan sosial lain.
    Di mata anaknya, Novi, Soeryo bukan lagi menjadi bapak, tetapi sudah menjadi teman. Novi mengatakan, bapaknya tidak mampu berpisah lama dengan keluarga. Sewaktu masih kecil, jika harus melakukan perjalanan bisnis dalam waktu relatif lama, Soeryo pasti memboyong seluruh keluarganya.
    “Setiap Sabtu, Papa pasti datang ke rumah saya untuk melihat cucu atau berkaraoke bersama kami,” ungkap Novi yang memberi dua cucu buat Soeryo. (Syahnan Rangkuti, Kompas 10 Februari 2007)  ►e-ti
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Runi Palar, bernama lengkap Sotjawaruni Kumala Palar lahir di Pujokusuman, Yogyakarta 26 Mei 1946. Dia dapat disebut sebagai ikon generasi baru disainer perak Indonesia. Memulai karier sebagai disainer perhiasan perak dan emas pada 1968. Dia membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam.

    Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan. Runi memasarkan produknya terutama ke Jepang, Eropa dan Amerika, selain Indonesia. Sehingga namanya menempati posisi tersendiri dalam perkembangan perak Indonesia.

    Ayahnya RS Tjokrosoeroso (almarhum) adalah ahli kerajinan perak bakar dan merupakan orang Indonesia pertama yang memamerkan silverwork dan cara pembuatannya di San Fransisco, USA selama 14 bulan pada tahun 1938. Alat transportasi yang digunakan pada waktu itu adalah kapal laut. Ibunya R Ngt. Sumiyati Soenandar (almarhumah) berasal dari Surabaya.

    Suaminya Drs Adriaan Palar, keturunan Minahasa, lahir di Bandung 14 November 1936. Seorang Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966 , jurusan Interior Design. Runi dan Adriaan pertama kali bertemu di New York, USA pada tahun 1964. Mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1967. Adriaan yang mendorong Runi dalam berkarya dan menekuni bidang seni pakai gapplied arts-design, khususnya fashion dan perhiasan.

    Mereka dikaruniai tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM. Sarjana Hukum jurusan Hukum Tata Negara Universitas Pajajaran (UNPAD), Bandung. Telah menikah, dikaruniai 3(tiga) orang anak. Saat ini bekerja sebagai staff pengajar Fakultas Hukum UNPAD, Bandung. Ia memperoleh bea siswa dari Aus-Aids untuk melanjutkan program S2 pada akhir tahun 2001 ke Sydney, Australia dan telah mendapatkan gelar Master dalam Intellectual Property Rights.

    Anak kedua, Alvin Daniel Dipodi Palar, SSn. Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Grafis, sedang mengikuti program S2 bidang Magister Managemet di Universitas Pajajaran, Bandung. Telah menikah dan dikaruniai 2(dua) orang putra.

    Anak ketiga, Xenia Dani Tajiati Palar, lulusan Seni Rupa, Institut Tehnologi Bandung (ITB), jurusan Desain Tekstil. Belum menikah.

    Runi Palar menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) di Yogyakarta. Kemudian, dia hijrah ke Bandung, kuliah di Institut Teknologi Tekstil (ITT) selama 2 tahun, namun tidak sampai selesai karena segera menikah.

    Kemudian Runi masuk Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwenda (1970) dan Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, Spsi (1974-1977) dan kursus-kursus bahasa serta ketrampilan lainnya.

    Dia menggumuli perhiasan perak mulai dari hobby hingga ke Profesi Designer. Bermula dari hobby mendesain busana sendiri dan membuat perhiasan dari kuningan dan perak, serta sering mengikuti berbagai fashion show dan pameran kerajinan, pada tahun 1976, Runi bersama suaminya Adriaan Palar mendirikan CV RUNA.

    Nama RUNA diambil dari singkatan nama RUNI dan ADRIAAN. RUNA dengan kekhususan tersendiri, bergerak di bidang desain, produksi perhiasan emas dan perak dengan logo RUNA Jewelry.

    Berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan kreasi Runi banyak digemari tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

    Dalam mengembangankan usaha selain bidang perak & emas, Runi dan Adriaan melihat adanya potensi dan ketertarikan anak-anaknya, Xenia dan Alvin pada bidang desain, khususnya desain tekstil (textile design).

    Pada tahun 1996, Runi dan Adriaan beserta kedua anak mereka, mendirikan Kirta Kaloka (anak perusahaan CV RUNA) yang merupakan usaha baru di bidang Textile Arts of Indonesia. Di samping mendesain dan membuat busana batik eksklusif dan household textiles dengan logo KIRITA Batik, Kirta Kaloka juga membuat perhiasan yang terbuat dari bahan-bahan lainnya (kayu, kulit, keramik, kuningan, dll.)

    Dalam mengembangkan usahanya, Runi sering melakukan studi banding dan praktek kerja. Di antaranya, Januari 1988, Studi Banding ke Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Hongkong dan Taipei, Taiwan. Maret 1988, studi banding ke Paris (Perancis) dan Arezzo & Vicenza (Italia). Kemudian Juni 2001 ke Vicenza-Oro, Italia. Juga kunjungan studi banding atas undangan World Gold Council International (Pameran dan Seminar tentang Perhiasan Emas).

    Sementara praktek kerja, antara lain dilakukan pada September 1982 di London & Scotland, Inggris mengennai Teknik Desain & Casting. Pada Maret 1996 mengikuti Kursus Teknik Kerajinan yang Eksklusif di Kyoto, Jepang.

    Runi Palar juga aktif di berbagai organisasi sosial dan profesi. Organisasi Sosial yang diikutinya adalah Women International Club (WIC) sebagai member (anggota biasa).

    Sementara Organisasi Profesi yang diikuti sebagai member, di antaranya: Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional/Indonesian Craft Council), Bandung; Kadin (Kamar Dagang Indonesia/Indonesian Chambers of Commerce), Bandung; HIMPI (Indonesian Craft Association for Small Scale Industry); ASEPHI (Indonesian Craft Exporter Association); American Craft Council, New York; WIPI (Wanita Insan Pariwisata Indonesia), Jawa Barat.

    Organisasi Profesi dimana Runi duduk sebagai Board of Director (Pengurus), antara lain: MBI (Indonesian Society of Gemstone), Bandung; Dewan Penyantun Yayasan Fashion Indonesia, Jakarta; IPAPI (Indonesian Jewelry Designer Association), Jakarta, selaku Ketua.

    Runi Palar & Runa Jewelry
    Sejak semula didirikan CV RUNA pada tahun 1976, Runi Palar memimpin sendiri RUNA Jewelry dibantu oleh suami, Adriaan Palar. Pada 5(lima) tahun terakhir, dibantu oleh anak-anak Alvin & Xenia dalam bidang desain dan artistik serta staff administrasi dan teknik di kedua galeri/kantor di Bandung dan Bali.

    CV. RUNA hingga saat ini masih merupakan perusahaan keluarga berskala usaha kecil menengah dengan prospek perluasan pemasaran ke luar negeri.

    Produk RUNA adalah karya desain dari perak sterling silver dan emas dalam bentuk perhiasan (kalung, cincin, gelang, bros, giwang, cufflink, tie pin, dsb) dengan menggunakan batu mulia (precious stone) maupun semi mulia (semi-precious stone) yang terpilih. Juga dalam bentuk gift item (replika dari benda/perhiasan kuno/antik, statuette, trophy/piala, dll) serta bentuk silverware (sendok, garpu, piring makan, cangkir, dsb).

    Teknik Produksi RUNA
    Produksi perhiasan RUNA dilaksanakan di tiga tempat yaitu di bengkel-bengkel di Bali, Bandung dan Yogyakarta sesuai dengan tersedianya pengrajin-pengrajin yang menguasai teknik pengerjaan perhiasan yang khas di daerahnya. Seperti, Teknik Granulation di Bali, Teknik Filigree di Yogyakarta, Teknik Pure Forms di Bandung dan Teknik Stamping/Repouse di Bandung & Yogyakarta.

    Teknik produksi RUNA dikerjakan di bengkel sendiri maupun secara kooperatif dengan tukang pembuat perhiasan yang dikerjakan di rumah masing-masing (home industry), khususnya untuk pembuatan komponen-komponen perhiasan.

    Sementara, finishing dan quality control terakhir sebelum dipasarkan, dikerjakan di bengkel RUNA di Bandung & Bali.

    Bentuk Pemasaran
    Produk RUNA dijual/dipasarkan secara retail, maupun wholesale, melalui toko-toko retail RUNA sendiri dan di luar negeri melalui boutique-boutique pelanggan RUNA Jewelry, mail order company di luar negeri.

    Penjualan secara wholesale untuk ekspor dilakukan hanya melalui kantor/galeri RUNA di Bandung & Bali. Juga melayani pemesanan khusus berupa corporate gifts untuk hotel-hotel berbintang di dalam negeri maupun luar negeri, kantor-kantor, untuk keperluan konggres, cinderamata yang diperlukan oleh Istana Negara, Jakarta, juga untuk museum shop di luar negeri.

    Selain itu pula, produk RUNA diekspor secara rutin ke manca negara seperti: Singapore, Hongkong, Jepang & Amerika.

    Toko dan Bengkel Kerja
    Bengkel Kerja RUNA berada di Bandung, Yogyakarta dan Bali. Sementara pemasaran produk RUNA secara retail) dilakukan melalui Exclusive Retail Shops di beberapa hotel bintang lima di Indonesia dan perwakilan RUNA di Chiba, Jepang maupun beberapa boutique eksklusif di Amerika Serikat dan kota lainnya di Jepang. Juga dalam pameran -pameran penjualan baik di dalam negeri maupun luar negeri.

    Exclusive Retail Shops RUNA Jewelry yang ada di Bandung: Hotel Horizon, RUNA Gallery & Studio (Jl. Gegerkalong Hilir no 68, Bandung 40153). Di Bali: Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua; Hotel Bali Hyatt, Sanur; Hotel Bali Inter-Continental Resort, Jimbaran; Boutique di Hotel Ritz Carlton, Jimbaran; Gift Shop di Nikko Bali Resort & Spa, Nusa Dua; RUNA Gallery, Batubulan, Gianyar; dan RUNA House of Design & Museum, Lodtunduh, Ubud. Di Yogyakarta: Hotel Hyatt Regency.

    Selain Exclusive Retail Shops di atas, RUNA juga mempunyai anak perusahaan KIRTA KALOKA yang menjual dan memasarkan Textile Arts of Indonesia serta mendesain dan memproduksi sendiri KIRITA Batik yang eksklusif.

    KIRTA KALOKA Exclusive Textile Shop berada di: Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali; RUNA House of Design & Museum, Lodtunduh, Ubud, Bali; Perwakilan RUNA Jewelry Japan Co. Ltd di Chiba, Jepang.

    Rencana dalam waktu dekat akan mebuka beberapa toko lagi di Ubud dan Kuta, Bali serta di Jakarta.

    Pameran
    RUNA Jewelry juga aktif mengikuti berbagai pameran di dalam maupun di luar negeri. Pameran di dalam negeri yang diikuti antara lain: 1975 di Gedung Merdeka, Bandung dan Pameran Permata & Perhiasan Indonesia di Taman Ismail Marzuki, Jakarta;

    Tahun 1983, 1984 dan 1985 secara berturut-turt mengikuti pameran di Istana Negara (State Palace), Jakarta. Tahun 1985 juga mengikuti The Second International Jewelry Exhibition, Flores Room, Hotel Borobudur, Jakarta; World Craft Council Congress, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta; Pameran Produksi Indonesia (PPI), Jakarta Fair, Jakarta.

    Tahun 1986 juga mengikuti Pameran Produksi Ekspor (P.P.E.), Jakarta Fair, Jakarta. Tahun 1987pameran di Bali Room, Hotel Indonesia, Jakarta; Department of Small Industry, Jakarta dan The Merchantile Club, BCA Bulding, Jakarta.

    Tahun 1988 kembali mengikuti pameran di Istana Negara (State Palace), Jakarta; Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta; dan Department of Small Industry, Jakarta. Tahun 1989 mengikuti Pameran Produksi Ekspor (PPE), Jakarta Fair, Jakarta.

    Tahun 1990 mengikuti Craft & Interior III, Jakarta; Indonesian Craft Council III, Jakarta; Shopper Delight, 19th Annual Convention-Indonesian Petroleum Association, Sahid Jaya Hotel, Jakarta; Istana Negara (State Palace), Jakarta; dan The Merchantile Club, BCA Building, Jakarta.

    Tahun 1991 mengikuti pameran lagi Istana Negara (State Palace), Jakarta; juga Jakarta Festival 91, Hotel Borobudur, Jakarta; Twentieth Annual Convention, Indonesian Petroleum Association, Sahid Jaya Hotel, Jakarta.

    Tahun 1992 di Le Meridian Hotel, Jakarta; Twenty-first Annual Convention, Indonesian Petroleum Association, Sahid Jaya Hotel, Jakarta; German Embassy, Jakarta; Jadec 92 (Jakarta Design Center 92), Jakarta.

    Tahun 1992 – 1997 mengikuti: Women’s International Club Bazaar; Christmas Bazaar German Embassy, Jakarta; KIDI Exhibition, Jakarta; German Embassy, Jakarta; Jadec 92 (Jakarta Design Center 92), Jakarta;

    Oktober 1998 di DEPERINDAG, Jakarta, Tahun 1999 juga di DEPERINDAG, Jakarta; German Embassy, Jakarta; WIC Bazaar, Jakarta

    Tahun 2000 di DEPERINDAG, Jakarta; Art Fair ITB, Bandung; WIC Charity Bazaar, Jakarta; German Embassy, Jakarta; Bali Fashion Week, Nusa Dua, Bali; International Jewelry Exhibition, Surabaya. Tahun 2001 di Bali Fashion Week, Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Bali

    Sementara, pameran di luar negeri (overseas exhibition), tahun 1977 di Salon de Vacances, Bruxelles, Belgium. Tahun 1979 Comptoir Suiss Lausanne, Switzerland; Selling Mission to 6 (six) West European Countries (Belgium, Holland, Italy, England, France, Germany), sponsored by ECC.

    Tahun 1981 di Harz und Heidi Braunsweig, Germany. Tahun 1982 di Galerie Fur Kunst Aus Sudost Asien, Hamburg, Germany. 1983 di Indonesische Sieraden Tropen Musem, Amsterdam, Holland; Utrecht Spring Fair Beatrix Hall, Utrecht, Holland.

    Tahun 1985 di Horten Department Store, Braunchweig, Germany (Pameran Tunggal RUNA di Department Store Horten). 1986 di Toronto Gift Fall Show, Toronto, Canada; Vancouver Expo 86 Indonesian Pavillion, Vancouver, Canada. 1987 di Paris Pret-a-Porter Feminine 87 Paris, France; Indonesian Pavillion, New York, USA.

    1988 di Utrecht Spring Fair 88, Utrecht, Holland; Paris Pret-a-Porter Feminine 88 Paris, France; New York Pret 88, New York, USA. 1989 di Inhorgenta Exhibition 89, Muenchen, Germany; Asean Trade Fair 89, Yokohama, Japan; Trade & Industry Fair 89, World Trade Center, Singapore.

    1990 di International Gift Fair 90, Tokyo, Japan; Oklahoma State Fair, Oklahoma, USA; Hullen Mall and Hyatt Regency Hotel, Forthworth, USA; World Trade Center, Dallas, USA; Private Exhibition, New York, USA.

    1991 mengikuti Indonesian Festival Metro Paragon, Singapore; Indonesian Product Exhibition 93 Los Angeles, USA; Smart Consumer 93 Tokyo, Japan; Hongkong International Jewelry Fair 93, Hongkong.

    1994 mengikuti Tokyo International Gift Show 94 Tokyo, Japan; Sister City Bandung – Braunchweig, Braunchweig, Germany. Tahun 1996 mengikuti World Fashion Trade Fair 96, Osaka, Japan. 1997 mengikuti Paris, Java, Bali Exhibition Le Bon Marche Department Store, Paris – France; Tokyo International Gift Show 97,Tokyo - Japan. 1998 mengikuti Tokyo International Gift Show 98, Tokyo – Japan; dan Dynamic Asia 1998, Osaka - Japan.

    Tahun 1999: Tokyo International Gift Fair 99, Tokyo – Japan; Osaka International Gift Fair, Osaka – Japan; Shimizu Exhibition, Japan; Fukuoka Gift Show, Fukuoka – Japan; Indonesian Handicraft, Kobe – Japan.

    Tahun 2000: Asian Ladies Exhibition 2000, Hotel ANA, Tokyo – Japan (Pembukaan Pameran dilakukan oleh keluarga kekaisaran Jepang: The Excellency Princess Hitachi Nomiya); Asian Fair 2000 Fujisaki Department Store, Sendai City – Japan; Asian Fair 2000 Isetan Department Store, Matsudo – Japan; Fascinating Jewelry 2000 Bunkamura Gallery, Tokyu Department Store, Tokyo – Japan; Sister City’s Program & the 3rd Conference of INAP International Network of Affiliated Ports, Kochi – Japan; Charity Event International Ikebana Exhibition 2000, Prince Hotel, Tokyo – Japan (Pembukaan Pameran dilakukan oleh The Excellency Princess Mikasa Nomiya); Asian Fair 2000 Fujisaki Department Store, Sendai City – Japan; dan Asian Fair 2000 Okinawa Ryubo Department Store, Okinawa – Japan.

    Tahun 2001:Asian Fair 2001 Fujisaki Department Store, Miyagi, Sendai City – Japan; Asian Fair 2001 Tokyu Department Store, Shibuya, Tokyo – Japan; Asian Fair 2001 Fukuya Department Store, Hiroshima – Japan; Asian Fair 2001 Isetan Department Store Matsudo, Chiba – Japan; Fascinating Jewelry 2001 Bunkamaru Gallery, Tokyu Department Store, Tokyo – Japan; October 5 – 8, 2001 World O-Cha (Tea) Festival 2001, Shizuoka Japan.

    Tahun 2002: 26 Maret – 1 April , 2002, Asian Fair 2002 Iyotetsu Takashimaya Department Store, Matsuyama – Japan; 19 – 24, April 2002 Asian Fair 2002 Fujisaki Department Store Miyagi, Sendai City – Japan; 24 April , 2002, Asian Ladies Charity Exhibition Hotel ANA, Tokyo – Japan (Pembukaan Pameran dilakukan oleh keluarga kekaisaran Jepang: The Excellency Princess Hitachi Nomiya); 29 Mei – 5 Juni, 2002, Asian Fair 2002 Tokyu Department Store Shibuya, Tokyo – Japan; 28 Juni – 3 Juli, 2002Asian Fair 2002 Fukuya Department Store, Hiroshima – Japan; 27 Juni – 2 Juli, 2002 Solo Exhibition 2002 - RUNA Jewelry & KIRITA Batik 1st Floor Fukuya Department Store, Hiroshima – Japan; 24 – 30 Juli , 2002 Asian Fair 2002 Isetan Department Store Matsudo, Chiba – Japan; 15 – 20, 2002 Fascinating Jewelry Bunkamura Gallery, Tokyu Department Store Shibuya, Tokyo; 22 – 27 Agustus, 2002 Asian Fair 2002 Daimaru Department Store Kochi – Japan; 17-25 Desember 2003 Christmas Sale Exhibition lantai I, main store, Mitsukoshi Nihonbashi, Tokyo – Jepang.

    Tahun 2003: March 7 - 13, “Asian Fair 2003″ Keio Departement Store, Shinjuku – Japan; March 15 - 18, ” Asian Fair 2003″ Saikaya Departement Store, Kanagawa – Japan; April 2 - 9, ” Asian Fair 2003″ Iyotetsu Takashimaya, Matsuyama – Japan; April 18 - 23, “Asian Fair 2003″ Fujisaki Departement Store, Sendai – Japan; May 1 - 7, “Asian Fair 2003″ Shibuya Departement Store, Tokyo – Japan; May 8 - 13, “Asian Fair 2003″ Isetan DepartementStore, Fuchu – Japan; May 15 - 27, RUNA & Indonesian craft Exhibition, Isetan Departement Store Shinjuku – Japan; June 6 - 13, ” Asian Fair 2003″ Keio Departement Store, Tokyo – Japan; June 19 - 24, ” Asian Fair 2003″ Fukuya Departement Store, Hiroshima – Japan; June 26 - July 2, RUNA solo Exhibition, Fukuya Departement Store, Hiroshima – Japan; July 23 - 29, ” Asian Fair 2003″ Fujisawa, Kanagawa – Japan; July 31 - August 5, ” Asian Fair 2003″ Isetan Departement Store, Matsudo – Japan; August 6 - 12, ” Asian Fair 2003″ Isetan Departement Store, Fuchu – Japan; August 14 - 20, RUNA solo exhibition, Bunkamura gallery – Japan; August 14 - 19, ” Asian Fair 2003″ Daimaru Departement Store, Kochi – Japan; August 21 - 26, “Asian Fair 2003″ Isetan Departement Store, Kichioji – Japan; dan Sept. 1 - 5, ” Asian Fair 2003″ Maruzen, Akasaka – Japan.

    RUNA Jewelry dan Mass Media
    Talk Show dan wawancara serta beberapa liputan lainnya tentang RUNA Jewelry telah disiarkan oleh berbagai media elektronik dan dimuat di media cetak Indonesia maupun luar negeri, antara lain: Majalah-majalah (SWA SEMBADA,TEMPO, AYAHBUNDA, ELITE – Bali, BALI & BEYOND, BUKA Bali, DEWI, FEMINA, KARTINI, MODE INDONESIA, TEMPO, Window of the World, BAZAAR, HER WORLD, dll)

    Harian KOMPAS, PIKIRAN RAKYAT – Bandung, BALI POST, JAWA POST, THE JAKARTA POST, INDONESIAN OBSERVER, KUTA NEWS – Bali, dll
    Media Cetak Luar Negeri seperti harian lokal di Jerman dan majalah – majalah di Jepang (BISES, SO-EN), dll.

    Media Elektronik Indonesia: TVRI - SCTV - ANTEVE - TPI - INDOSIAR – RCTI – METRO TV – TRANS TV. Media Elektronik Luar Negeri: CNN / Cable News Network - (April 2000); RYUKYUS, Television Broadcasting Okinawa, Japan (2000); CNA / Channel News Asia, Asia Pacific (April 2001); TV Kochi, Sun Sun TV, Japan 2002.

    Penghargaan
    1986: The American Gold Star Award for Quality
    1990: UPAKARTI The Indonesian Presidential Award of Merit
    1991: The Enterpreneurship Award 1991 dari Rotary Club International.
    1992: 28 Best Business Executives in Developing Indonesia dari Natakarsa
    1994: WIPI Award (Indonesian Women in Travel), Award of Merit in Indonesian Fine Handicraft for Tourism.
    1995: Citra Adhikarsa Budaya’95 dari SCTV (one among seven Indonesian ladies who preserved the Indonesian cultures by Indonesian Television Broadcasting– SCTV).
    1995: Srikandi Award dari IMI (International Management Indonesia)
    1996: Indonesia Award dari Kharisma Indonesia
    2001: Best Fashion Accessories Designer dipilih oleh FTV Paris (Fashion TV) pada acara Bali Fashion Week bulan Mei 2001.  ►e-ti/tsl
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Pendiri dan Komisaris Utama PT Kalbe Farma Tbk, Boenjamin Setiawan yang akrab dipanggila Dr. Boen dedikasinya bagi kemajuan industri farmasi nasional tak diragukan lagi. Di tangan Boen, perusahaan sekelas garasi “disulap” menjadi grup farmasi terbesar di Tanah Air: PT Kalbe Farma Tbk. Warta Ekonomi menobatkannya menjadi salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005.

    Bicara tentang industri farmasi nasional, sulit melupakan Boenjamin Setiawan. Kecintaannya terhadap dunia farmasi mengantarnya sebagai salah satu tokoh industrialisasi farmasi modern nasional. Pria yang akrab disapa Dr. Boen ini tak lain adalah pendiri sekaligus pemilik PT Kalbe Farma Tbk., sebuah grup farmasi besar yang terintegrasi. Perusahaan farmasi lokal ini ditaksir memiliki aset di atas Rp5 triliun. Lengan bisnis grup ini meliputi obat-obatan, makanan kesehatan, bisnis pengepakan, distribusi, pergudangan, dan sarana riset modern.
    Boen memiliki labar belakang akademis, khususnya di bidang farmakologi dan farmakinetik. Sebelum sepenuhnya menerjuni bisnis, peraih gelar dokter dari Universitas Indonesia dan Ph.D. bidang farmakologi dari University of California, AS, ini sempat beberapa tahun menjadi dosen. Sepulang dari sekolah di AS, ia banting setir, mencoba peruntungan dengan menggeluti bisnis farmasi. Tepatnya, pada 1966, cikal bakal Grup Kalbe resmi berdiri.
    Keberhasilan Grup Kalbe memang tak luput dari kepemimpinan pria kalem ini. Sebagai ahli farmasi, Dr. Boen paham betul bagaimana perkembangan farmasi global. Ia terjun langsung mengembangkan jenis obat-obatan maupun makanan kesehatan Kalbe. Lompatan sukses Grup Kalbe terutama ditopang oleh kejeliannya membaca ceruk pasar dengan memproduksi dan memasarkan obat generik.
    Kesuksesan Kalbe tak membuat Dr. Boen cepat berpuas diri. Kali ini ia kembali membuat gebrakan lewat langkah merger internal. Tiga perusahaan publik, Kalbe Farma, Dankos Laboratories, dan perusahaan distribusinya, PT Enseval Putera Megatrading, dilebur menjadi satu. Boleh jadi ini merupakan aksi merger internal terbesar yang pernah terjadi di bursa.
    Boen tampak cukup cerdik meneropong perkembangan pasar. Merger ini akan memperkuat posisi Grup Kalbe di industri farmasi nasional. Mereka juga menciptakan sinergi yang kokoh antar-unit usaha untuk memperbesar pasar, di samping tentunya menghasilkan efisiensi dalam proses kegiatan usaha.
    Di luar itu, Kalbe juga melakukan sejumlah langkah strategis. Mereka mendirikan PT Innogene Kabiotect Pte. Ltd., sebuah perusahaan riset dan pengembangan. Kalbe juga menjalin kerja sama strategis dengan Morinaga untuk mendirikan pabrik susu dengan investasi sekitar Rp500 miliar. Dengan sejumlah terobosan inilah maka pantas jika Dr. Boen menjadi tokoh bisnis tahun ini. (prananda herdiawan, Warta Ekonomi, 28 Desember 2005) ►e-ti
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Banyak suka duka yang dialaminya selama 30 tahun lebih mengelola bisnis asuransi yang unik dengan persaingan sangat keras. Bahkan lebih keras dari bank. Kepercayaan nasabah dinilainya sebagai suatu hal yang sangat membahagiakan. Banyak teman yang mengajaknya berbisnis di sektor lain. Namun selalu dia tolak. Karena dia sudah cinta dengan asuransi.

    Di jajaran industri asuransi nasional, nama Rudi Wanandi tidak asing lagi. Pembawaannya low profile, bicaranya ceplas-ceplos dengan logat Padang yang masih kental, senyumnya tak lekang dari bibir, mempunyai catatan panjang dalam bisnis yang unik ini.
    Perkenalannya dengan dunia asuransi dimulai ketika dia bekerja di Maskapai Asuransi Madijo tahun 1974, yang setahun kemudian berganti nama menjadi Asuransi Wahana Tata. Di perusahaan ini sejak 1983 hingga kini dia dipercaya menjadi direktur utama. Jalan menuju ke puncak itu dilaluinya setelah terbukti dia mampu.
    Di tengah persaingan bisnis asuransi yang semakin tajam, dia sanggup mengangkat citra Wahana Tata di jajaran papan atas industri asuransi nasional. Lihat saja, di tengah terjadi pro-kontra mengenai risk based capital/RBC) sebagai ukuran kesehatan keuangan asuransi, tahun 2001 Wahana Tata membukukan angka RBC 200 persen. Angka ini begitu signifikan, karena jauh di atas ketentuan pemerintah yang mematok 40 persen.
    Selain itu, perkembangan penting yang dicapai adalah kemampuan perusahaan meningkatkan modal setor. Tahun 2000 lalu modal disetor sebesar Rp 100 miliar. “Keberhasilan ini kami capai melalui kerja keras seluruh jajaran Wahana Tata, karena perusahaan ini kami kelola melalui team work,” katanya.
    Bukan cuma itu. Dari data keuangan yang belum diaudit, per Nopember 2001, Wahana Tata membukukan total asset lebih dari IDR sebesar Rp 300 miliar. Investasi Rp 200 miliar, modal sendiri Rp 150 miliar. Premi bruto lebih dari Rp 275 miliar. Perusahaan mencatat hasil underwriting lebih dari Rp 70 miliar dengan laba bersih Rp 35 miliar.
    Banyak suka duka yang dialaminya selama 30 tahun lebih mengelola bisnis yang unik, persaingan yang sangat keras. Bahkan lebih keras dari bank. Kepercayaan nasabah dinilainya sebagai suatu hal yang sangat membahagiakan. Jadi, kalau disuruh memilih pekerjaan, dia lebih memilih kerja diasuransi. Karena dengan fax saja dia bisa mendapatkan satu juta dolar AS, tanpa mengunakan akte notaris atau tanpa apa-apa.
    Banyak teman yang melirik atas keberhasilkannya itu, kemudian mengajaknya berbisnis. Semua dia tolak. “Karena saya sudah cinta sekali dengan asuransi. Saya sudah bahagia dengan asuransi ini. Walaupun pimpinan pemerintahan ganti-ganti, kami tetap bahagia,” katanya memebri alasan.
    Kiat yang membuatnya sukses adalah keterbukaan dan saling percaya, yakni kepercayaan manajemen terhadap anak buah, maupun kepercayaan pemegang saham terhadap manajemen. Kemudian bekerja secara team work. Jangan mengatakan rasa pesimis kepada karyawan, karena hal itu dapat menurunkan semangat bekerja mereka.
    Kalau kemudian muncul masalah di cabang, pusat siap membantu. “Dengan segala latar belakang yang berbeda, kami bisa memberikan keputusan yang sama,” katanya.
    Rudy bukan tukang ramal. Tapi, jika ditanya soal asuransi, keyakinannya bisa mengalahkan paranormal. Menurut analisanya, dalam perdagangan bebas dunia (World Trade Organitation/WTO) dan ASEAN (ASEAN Free Trade Area/AFTA) 2003, persaingan bisnis asuransi di Indonesia semakin tajam.

    Masuknya industri asuransi kelas dunia dengan modal dan teknologi yang kuat, dan saat inipun keberadaannya mulai menggigit, adalah suatu konsekuensi yang harus dihadapi.
    Yang akan keluar sebagai pemenang adalah perusahaan yang dapat membangun keunggulan kompetitif. Kalau tidak, industri asuransi nasional akan tertinggal di belakang, dan harus puas hanya sebagai ‘tukang jahit’.
    Namun demikian, katanya, perdagangan bebas bukan hal yang perlu ditakuti, tapi harus disikapi. Caranya, dengan membangun keunggulan kompetitif tadi. Karena ada kecenderungan pasar asuransi akan terus berubah. Nasabah mengharapkan para penanggung asuransi dan regulator untuk lebih transparan. Mereka perlu mengetahui kekuatan keuangan, kesanggupan untuk membayar klaim, pelayanan yang lebih baik, pemanfaatan dan keamanan yang lebih baik.

    Kelewat banyak
    Perusahaan asuransi di Indonesia boleh dibilang seperti industri perbankan. Selain jumlahnya yang kelewat banyak, sebagian besar di antaranya dianggap kurang kokoh untuk menghadapi pesaing dari mancanegara yang kini terus ‘bergerilya’ di negeri ini. Kelemahan yang dialami rata-rata menyangkut permodalan, teknologi, tenaga ahli, manajemen dan keterampilan. Sampai tahun 2000, di Indonesia kini beroperasi 107 perusahaan asuransi umum, 24 di antaranya berstatus joint venture, 61 asuransi jiwa, 4 perusahaan reasuransi professional, dan 2 asuransi sosial.
    Jumlah perusahaan ini termasuk banyak. Tapi dari segi perolehan premi, Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara sekitar. Di Jepang misalnya, hanya ada sekitar 20 perusahaan, tetapi perolehan preminya sangat jauh lebih besar dari Indonesia. Dibanding dengan Singapura yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit, perolehan premi kitapun masih kalah. Masyarakat masih kurang merasakan pentingnya asuransi,” katanya.
    Dalam kondisi perekonomian nasional yang belum kondusif, Rudy menggarisbawahi dua hal yang bisa membuat industri asuransi hidup dan bertahan. Pertama, pemerintah harus konsekuen dalam menjalankan undang-undang maupun peraturan menyangkut bisnis ini. Dalam aturan mainnya pemerintah tidak merubah-rubah peraturan seenaknya saja. Karena hal ini membuat pusing pihak asuransi. Kedua, pemerintah harus konsisten dalam penegakan supremasi hukum.
    Bisnis asuransi adalah bisnis janji. Jadi, dasar hukumnya harus kuat. Tidak jauh berbeda dengan bank. Kalau bank dengan jaminan, sedangkan asuransi jaminannya perjanjian. Dalam konteks ini pemerintah harus tetap konsisten dengan rules of the game. “Kalau salah harus disalahkan, kalau mesti bayar harus bayar, jangan dimain-mainkan. Kalau masalah hukum kita baik, maka asuransi menjadi bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
    Konsisten dengan rules of the game yang dimaksudkan Rudy adalah, karena banyak institusi pemerintah yang terkait dalam bisnis ini. Salah satunya adalah pihak kepolisian sebagai institusi penegak hukum yang sangat terkait dengan proses klaim. Rudy mengharapkan agar pihak kepolisian bekerja secara professional. Konsisten dengan aturan main yang telah dibuat. Karena bisnis asuransi ini bisa berjalan dengan baik apabila didukung institusi yang terkait. “Saya ingin polisi itu sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dan jujur,” katanya.
    Menurut penilaiannya, pihak kepolisian perlu meningkatkan profesionalismenya. “Dalam hal ini kami mohon agar pemerintah tegas. Kalau dibiarkan terus akan merusak image asuransi,” katanya.
    “Bisnis asuransi sangat memerlukan kondisi kepastian hukum. Unsur kepercayaan yang menjadi salah satu dasar penting bisnis asuransi bersentuhan sekali dengan aspek moralitas, yang dalam berbagai kasus atau kesempatan dapat mengarah pada tindakan criminal, atau kejahatan asuransi baik dari sisi perusahaan asuransi maupun nasabah dan dapat berdampak sangat destruktif. Oleh sebab itu, sangat urgen bagi industri asuransi untuk tumbuh dalam kondisi kepastian hukum. Perlu ada ketegasan sikap dari pemerintah dan aparat. Kalau tidak, akan merusak image dunia usaha asuransi,” ujarnya.
    Apalagi bisnis asuransi sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat, hingga kini tidak mengenal program rekapitalisasi seperti dinikmati perbankan.
    Rudy berbagi keberhasilannya di dunia asuransi, dengan cabang olahraga. Sudah 15 tahun dia duduk sebagai Pengurus Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI). Tahun ini dia diangkat lagi sebagai wakil ketua, yang dalam waktu dekat akan dilantik oleh Ketua KONI.
    “Sebenarnya bekerja di organisasi sosial lebih letih dibanding kerja di asuransi yang aturan mainnya tegas, salah dimarahi atau bahkan dipecat. Diorganisasi sosial jauh lebih longgar. Jadi lebih enak di asuransi,” ujar penggemar olahraga renang, tennis dan golf ini.
    Dulu suka nonton bola. Saya pernah bilang, dalam kondisi ekonomi Indonesia seperti sekarang ini, mengurus asuransi seperti mengurus bola. Artinya, bisa bertahan saja sudah berarti menang. ►e-ti/tsl

    ===========

    Entrepreneur Of The Year 2004 Finalists

    For almost 30 years, PT Asuransi Wahana Tata has been the main business focus for Rudy Wanandi. His story began in 1974 when he acquired Maskapai Asuransi Madijo. A year later he changed the name to Asuransi Wahana Tata to reflect a sense of innovation and growth.
    To strengthen the company, Rudy quickly implemented a business model that focused on centralization to strengthen internal organization. At first, the company focused on the banking industry. During the 1980s when the economy was booming, it diversified into the corporate segment. In the mid-1990s, following its prudent business philosophy, Rudy further diversified the company into the retail/consumer business segment this enabling the company to maintain its position and continue to grow even during the banking and monetary crisis.
    As competition became fiercer, Rudy focused the business on integrating all processes to provide a seamless service to customers. Currently, the company is listed as one of the top 10 general insurance companies and is ranked No. 7 in terms of gross premium income in Indonesia. Rudy has been able to convince other stockholders to reinvest the profits, something he attributes to the trust among the shareholders, commissioners, and employees. What started as one operational office and 25 employees has now become a company with a presence in 15 provinces supported by 30 branch offices and 700 employees. ►e-ti/ey.com

    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

    .

    .

    Presiden Direktur Lion Air ini adalah pelopor penerapan konsep penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) di Indonesia. Gebrakannya meruntuhkan stereotip sebelumnya bahwa hanya orang kaya yang bisa naik pesawat. Hadirnya Lion Air dengan jargon We Make People Fly, membuat siapa saja kini bisa naik pesawat dengan harga tiket murah.

    Pantas saja Warta Ekonomi menggelarinya Kapten Industri Penerbangan Indonesia. Rusdi Kirana, Pria kelahiran 17 Agustus 1963, oleh majalah ekonomi itu dinobatkan pula sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Sebab, langkah Rusdi masuk ke low cost carrier, dinilai telah menginspirasi pebisnis lainnya untuk beramai-ramai masuk ke industri penerbangan.
    Warta Ekonomi 28 Desember 2005: Rusdi memulai bisnis penerbangannya pada Oktober 1999. Dengan modal awal US$10 juta, Rusdi menggagas “revolusi” dalam dunia penerbangan dengan konsep berbiaya murah (low cost carrier). Gebrakannya itu membuat repot sesama perusahaan penerbangan.

    Dalam waktu singkat, Rusdi mampu membawa Lion Air melesat. Hanya dalam tempo enam tahun, Lion kini memiliki 24 pesawat yang terdiri dari 19 MD80 dan lima pesawat DHC-8-301. Dari sisi jumlah penumpang, Lion bisa meraih 600.000 orang lebih per bulan atau menguasai 40% dari seluruh segmen pasar. Pada 2004 Lion Air menempati posisi kedua, setelah Garuda Indonesia, dalam hal jumlah penumpang yang diangkut.
    Prestasi ini ternyata belum cukup bagi Rusdi. Ia masih terus mengembangkan sayap-sayap bisnis Lion Air dan berniat menjadi market leader dalam penerbangan domestik. Maka, ia pun terus mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari infrastruktur, rute penerbangan, hingga penambahan jumlah pesawatnya.
    Untuk infrastruktur, Rusdi bekerja sama dengan pihak TNI AU dan PT Dirgantara Indonesia menyewa hanggar di Lapangan Udara Husein Sastranegara, Bandung, guna dijadikan Lion Maintenance Facility (LMF). Ia juga membeli simulator pesawat bekas dari Skandinavia Air untuk melatih para pilotnya. Selain itu, Lion Air juga melakukan kerja sama dengan TNI AU untuk menjadi pengelola Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dengan demikian, kemungkinan besar base dari pesawat-pesawat Lion Air akan beralih ke Halim.
    Untuk rute penerbangan, saat ini Lion Air telah mendarat di 36 kota besar di Indonesia. Di jalur internasional, Lion Air juga melayani penerbangan ke Singapura, Penang, Kuala Lumpur, Ho Chi Minh, dan Seoul. Mereka juga akan mengembangkan jalur ke Asia Tengah dan Asia Timur, seperti ke Hong Kong dan Cina.
    Guna merealisasikan rencananya itu, tidak tanggung-tanggung, tahun ini Rusdi membeli 60 pesawat Boeing 737 senilai US$3,9 miliar.
    Kalau melihat semua rencana dan perkembangan Lion Air saat ini, tampaknya Rusdi hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi pemain utama dalam bisnis penerbangan di Tanah Air. (evi ratnasari) e-ti
    *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)